TOPIKKITA.COM | Tingkat tertinggi puasa tingkatan sangat khusus (khawashul khawash), dalam berpuasa bukan sekadar menahan rasa lapar, haus, syahwat, panca indra, melainkan juga seluruh peranti kehidupan manusia (jasmani-rohani).

Bagi kelompok ketiga ini, misi sosial merupakan salah satu sisi yang juga dilakukan “laku puasa” dengan menyantuni dengan sepenuh hati pada masyarakat yang sedang mengalami kesusahan (terbenam dalam lumpur kekusahan dan kesulitan hidup).

Puasa adalah syariat yang telah diwajibkan oleh Allah SWT sejak manusia hadir di muka bumi . Ibadah ini telah disyariatkan sejak zaman nabi Adam AS hingga Rasul terakhir Nabi Muhammad SAW.

Dalam perspektif Rumi, puasa sejatinya ritual yang menghantarkan ruh manusia agar mendaki naik dan berproses menuju kesempurnaan.

Dengan berpuasa, jiwa-jiwa rendah manusia yang selama ini terikat oleh tarikan dunia material ditransformasi agar mampu menguasai dan mengontrol dorongan hawa nafsu bukan malah dikuasai dan dikendalikan olehnya.

Hasil akhirnya jiwa (Nafs) yang telah melakukan penyucian dengan puasa akan menjadi murni dan memiliki kesiapan (isti’dad) untuk menerima limpahan cahaya-Nya.

Jiwa ini menjadi Nafsu yang diridhai (al-Nafs al-Mardhiyyah) dan Nafsu yang tenang (al-Nafs al-Muthmainnah).

Mencapai kualitas puasa yang mampu membakar seratus hijab dan mendaki seribu derajat dalam perspektif Rumi ini tentu tidak mudah dilakukan. Diperlukan niat yang tulus, kesungguhan serta kesabaran agar mampu mewujudkan kualitas puasa tersebut. Kualitas ini sejalan dengan substansi tujuan puasa sendiri yaitu membentuk pribadi bertaqwa (QS.2:183).

Puasa bagi para pendaki/pejalan Spiritual tidak lagi dimaknai sebagai pergulatan menahan jiwa dari keinginan-keinginan untuk memuaskan hasrat perut dan birahi saja, karena mereka telah lepas dari itu, tapi adalah perjuangan jiwa dalam menjauhi segala dosa-dosa lahir dan dosa-dosa batin.

Dosa lahir bersumber dari tujuh anggota tubuh, dua mata, dua telinga, mulut, perut, dan kemaluan. Dosa batin adalah segala hal-hal yang mampu menyeret hati ke lembah menduakan Tuhan (syirik khafy), semisal, ‘ujub, takabbur, riya’, sum’ah, hasad, cinta dunia dan lain sebagainya.

Tapi bagi para pejalan Spiritual (Sufi) yang telah mencapai maqam (derajat) akhir dalam perjalanan spiritual, puasa itu bukan lagi berkisar dalam peperangan hati dari segala dosa-dosa batin, karena dengan melalui perjalanan suluk yang panjang, melintasi beberapa tangga-tangga ma’rifatullah, hati mereka menjadi bening, bersih dari noda-noda batin.

BACA JUGA :  Puasa Pertama, Warga Semangat Bersedekah Memberi Buka Puasa Para Santri

Selain bening hati mereka pun steril dari ancaman virus noda-noda batin. Sehingga puasa bagi pejalan Spiritual yang telah sampai pada sebuah Kesadaran Spiritual, adalah menahan hati dari musyahadah kepada selain Allah, dan dari mencita-citakan sesuatu selain Allah.

Bagi mereka tiada yang disembah, diinginkan, dicintai, dan dimaksud kecuali Allah. Sehingga jika terlintas dalam hati keinginan atau cita-cita selain Allah maka rusaklah puasa mereka.

Salah satu kunci agar kualitas puasa kita mampu menghantarkan menjadi pribadi bertaqwa serta mampu menjadi spirit bagi kita untuk melakukan pendakian spiritual adalah cinta ilahiyyat (al-isyq al-ilahiyyat). Ibadah ritual apapun jika niat awalnya adalah cinta, sesulit apapun akan terasa manis dan indah.

Nampaknya kita perlu mempertanyakan motivasi utama kita melakukan segala bentuk peribadatan maupun segala amal kebajikan yang selama ini kita lakukan.

Sebagian dari kita mungkin berpuasa motivasinya ingin mendapat pahala, ingin masuk surga dan terhindar dari neraka, ingin sehat dan diet dengan berpuasa dan lain sebagainya.

Niat tersebut tidaklah keliru, namun alangkah lebih baiknya dengan semakin dewasanya pemahaman keberagamaan, kita tingkatkan motivasi kita melakukan segala ritual dan aktivitas kebajikan apapun termasuk dalam hal ini berpuasa hanyalah realisasi dari kecintaan kita kepada sang Maha Kekasih yaitu Allah SWT.

Dalam cinta tak ada paksaan, tak ada pamrih, tak ada hukuman dan ganjaran yang ada adalah kerinduan (al-‘isyq) mendalam untuk bertemu dan bersatu dengan sang kekasih.

Karena itu shalatlah karena cinta maka kita akan mengalami Mi’raj ruhani untuk bercengkerama dengan sang Kekasih muara segala pecinta , berpuasalah karena cinta karena dengan cinta segala lapar dan haus yang kita rasakan akan mampu membakar seratus hijab dan menaikkan kita ke derajat spiritual tertinggi untuk sampai kepada-Nya, berzakatlah karena cinta karena dengan cinta, pengorbanan harta kita demi menolong sang fakir miskin begitu dicintai Sang kekasih penguasa semesta, berhajilah karena cinta karena dengan cinta, Haji yang kita lakukan akan menghantarkan kita kepada Arafah (padang pengenalan Tuhan) dan Baitullah (Rumah sang kekasih).

BACA JUGA :  Pasien Positif Covid-19 Bertambah 227, Total Jadi 309 Orang

Puasa merupakan medium yang tepat bagi sang jiwa untuk dilatih dengan didikan langsung dari Yang Maha Agung, Allah SWT.

Jiwa adalah unsur dalam diri manusia yang dipengaruhi oleh dua dimensi yaitu tarikan dunia rendah alam materi dan tarikan alam spiritual.

Jiwa ditarik oleh dimensi jasad yang berasal dari tanah dan dimensi ruh yang berasal dari alam ketinggian dan bersifat ilahiyah.

Puasa adalah bagaimana kita mengontrol segala tarikan yang berasal dari “kehewanan” kita.

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, dalam diri manusia tercampur empat jenis kecenderungan jiwa:
– Pertama jiwa syaitaniyah yaitu kecenderungan yang berasal dari sifat sifat setan semisal iri, dengki, licik, hasut, makar dan sejenisnya.

– Kedua jiwa Bahimiyyah yaitu sifat sifat binatang ternak seperti makan dan minum yang berlebihan.

– Ketiga jiwa Sabuiyyah yaitu jiwa binatang buas seperti buas, liar, dan marah yang berlebihan.

– Keempat jiwa Rububiyyah yaitu jiwa ketuhanan yang merupakan limpahan langsung dari sifat sifat Tuhan yang secara garis besar terbagi kepada sifat Keindahan (Jamaliyyah) dan Keagungan (Jalaliyyah) yang terangkum dalam Asma Al Husna.

Ini diperkuat oleh sabda Rasul terkasih Takhallaqu Biakhlaqilah artinya bersifatlah kalian dengan mencerap dan meniru sifat sifat Allah Azza Wajalla.

Puasa adalah bagaimana kita menjadikan sifat sifat Rububiyyah kita lebih dominan dan menguasai ketiga sifat diatas.

Untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah karena diperlukan niat yang kuat serta kesungguhan yang berlipat dan proses terus menerus tanpa jeda dari kita untuk memperbaiki diri, menambah ilmu dan kearifan.

Yang terpenting mempesiapkan (isti’dad) diri ini agar pantas dan memiliki sinyal rohani untuk menerima limpahan (fayd) dan limpahan cahaya (illuminasi ) hikmah-Nya yang setiap saat Tuhan pancarkan kepada alam wujud ini.

Para pendaki / Pejalan Spiritual menjelaskan bahwa gerakan menuju kesempurnaan (Al Harakah Al Kamaliyyah) dialami oleh setiap jiwa manusia.

Jiwa tersebut pada masa masa awal memerlukan jasmani agar bisa mengindividu dan eksisten. Dalam proses kembalinya jiwa dari alam material menuju alam spiritual manusia akan mengalami transformasi spiritual sesuai kadar dan potensi dirinya.

BACA JUGA :  Hasil Pilwabup Bekasi Resmi Dibatalkan Kemendagri, GMBI Bersyukur

Karena itu jika manusia konsisten dan aktif mengikuti petunjuk yang diberikan akalnya serta petunjuk dari Sang Penguasa melalui para utusan-Nya maka jiwanya akan berproses menuju kesempurnaan.

Jiwa hasil proses transformasi ini akan melahirkan energi yang tidak terbatas dan dorongan positif untuk mewujudkan sifat sifat Rububiyyah Tuhan dalam konteks realitas sosialnya.

Energi langit diperlukan oleh manusia untuk keberlangsungan hidupnya di alam yang sementara ini. Setelah mencerap energi Ramadhan seharusnya jiwa seorang yang berpuasa akan berubah menjadi kualitas kualitas Muttaqin semisal pengasih, penyayang, penebar cinta dan kasih sayang serta peduli kepada sesamanya.

Para pelaku puasa setelah ditempa dalam kawah candradimuka Ramadhan selama sebulan penuh maka jiwanya selain memiliki ketajaman spiritual yang dipenuhi cinta universal, mereka juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kecintaan kepada Tuhan diejawantahkan dalam mencintai sesama. Membela yang tertindas, menjadi lokomotif perubahan sosial serta aktif dalam tugas-tugas kemanusiaan.

Transformasi Spiritual melalui puasa akan melahirkan watak manusia yang pengasih. Mengantarkan kesadaran untuk selalu ikut berperan serta mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan, berperan aktif memerangi kemiskinan, dan selalu menyertai sesama manusia yang berada dalam penderitaan.

Transformasi spiritual dalam puasa adalah kesadaran batin untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hal yang harus dikalahkan, dan kedzaliman sebagai hal yang harus ditundukkan. *(red)

Penulis : A. Hadinugroho