Jakarta, September 2026 — Hasil survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto mencapai 56,3 persen, sementara kepuasan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di angka 49,2 persen. Terdapat selisih 7,1 poin persentase antara tingkat kepuasan terhadap Presiden dan Wakil Presiden.
Pangiutan Lubis (Ipang), Peneliti Muda Digdaya Polling & Strategy, menilai angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan persepsi publik terhadap kinerja Presiden dan Wakil Presiden. Menurutnya, angka 56,3 persen menjadi modal penting bagi Prabowo untuk terus menjaga kepercayaan publik, sekaligus menjadi indikator bahwa kinerja pemerintahan masih mendapatkan penerimaan yang relatif positif dari masyarakat.
“Angka survei ini berbicara. Kepuasan terhadap Prabowo sebesar 56,3 persen lebih tinggi dibandingkan Gibran yang berada di 49,2 persen. Selisih 7,1 poin ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi publik terhadap kinerja kedua figur utama pemerintahan,” ujar Ipang.
Menurut Ipang, perbedaan tersebut tidak serta-merta harus dibaca sebagai persoalan politik antara Presiden dan Wakil Presiden. Presiden memiliki tingkat visibilitas dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap keseluruhan kebijakan pemerintah, sehingga persepsi publik terhadap Prabowo sangat dipengaruhi oleh kinerja pemerintahan secara keseluruhan. Sementara itu, Gibran masih memiliki ruang untuk memperkuat citra kinerja dan menunjukkan kontribusi yang semakin konkret kepada publik.
“Angka 49,2 persen untuk Gibran bukan berarti kehilangan dukungan publik. Justru ini merupakan ruang untuk meningkatkan kinerja, memperkuat komunikasi publik, dan memastikan masyarakat mengetahui kontribusi Wakil Presiden dalam pemerintahan,” kata Ipang.
Ipang menambahkan, pemerintah sebaiknya tidak terjebak menjadikan survei hanya sebagai instrumen untuk membaca popularitas. Angka 56,3 persen harus dijaga melalui kinerja nyata, sementara angka 49,2 persen harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kepercayaan publik. Pada akhirnya, tantangan pemerintahan Prabowo-Gibran bukan sekadar meningkatkan angka kepuasan, tetapi memastikan kebijakan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Survei bisa naik dan turun, tetapi kepercayaan publik harus dibangun melalui kinerja yang konsisten. Angka hari ini adalah cermin, bukan tujuan akhir. Pemerintah harus menjadikan hasil survei sebagai bahan evaluasi untuk bekerja lebih baik dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” pungkas Ipang. (***)











