Foto kejadian mobil besar amblas saat hendak masuk ke jalan Kampung Binong dari jalur Pemda Jalan Citarik Desa Jatireja, Cikarang Timur. Senin 24/02/2020

TOPIKKITA.COM | BEKASI – Puluhan warga sebanyak 80 orang bertanda tangan atas nama Forum Komunikasi Warga RW. 03 Kampung Binong, Desa Jatireja, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sepakat akan menutup akses masuk ke jalan kampung RT/RW.01/03 dengan membuat portal agar mobil besar kontener pengangkut barang ke area Klaster Industri Kecil dan Menengah dibawah pengembang PT. Adinata Artha Kreasi tidak boleh masuk, sebelum pihak PT meningkatkan kapasitas dan kekuatan jalan warga yang di laluinya.

Hal itu disampaikan oleh warga melalui surat resmi yang dilayangkan kepada pihak PT setelah beberapa hari lalu (Senin, 24/02/2020) terjadi peristiwa amblasnya ban mobil besar pengangkut barang di pertigaan yang hendak masuk ke jalan kampung guna pengiriman barang, jika tidak mengenai tiang listrik, mobil bermuatan berat itu bisa terguling. Beruntung kejadian itu tidak menelan korban, namun jelas mengganggu aktipitas warga akibat kemacetan yang cukup lama.

Mobil warga yang hendak keluar mengalami kerusakan akibat peristiwa amblasnya mobil besar

Selaku perwakilan warga, Uyih Wijaya mengatakan kepada media bahwa warga hanya menuntut kepada pihak PT terkait kapasitas dan kualitas jalan kampung bila terus dilalui oleh mobil besar berkapasitas berat itu terus dipaksakan masuk, maka jalan akan cepat rusak dan merugikan warga.

“sebelum kapasitas dan kekuatan jalan lingkungan kampung ini ditingkatkan oleh pihak PT, maka kami menghimbau agar tidak memasukkan kendaraan mobil besar pengangkut barang dengan beban melebihi kapasitas,” pinta Uyih mewakili forum warga. Selasa (10/03/2020).

“Bila pihak PT terus memaksakan kehendaknya, maka warga sepakat akan membuat portal dan menyetop sang supir,” tegasnya.

Uyih menceritakan, bahwa jalan ini adalah mutlak jalan lingkungan milik warga Kampung Binong Desa Jatireja, yang dibangun menggunakan anggaran desa, bukan milik PT itu. Bahkan untuk membuat gorong – gorong saluran air yang rusak oleh amblasnya mobil besar waktu itu, adalah hasil swadaya warga dengan ketua RT yang sampai saat ini belum ada kejelasan tanggung jawab dari pihak PT.

Uyih bersama warga merasa pihak PT tidak menghargai dan belum bertanggungjawab atas aspirasi warga terkait jalan yang rusak akibat seringnya dilalui mobil besar bermuatan berat yang terus dipaksakan masuk. Bahkan pasca kejadian amblasnya mobil waktu itu, bahkan pihak kepolisian sektor Cikarang Timur juga ada, tapi tetap saja mobil besar dipaksakan masuk terus. Sampai saat ini sudah tercatat dua kali mobil besar masuk pada malam hari.

Ketika ditemui di lokasi bersamaan dengan masuknya mobil besar bermuatan berat pada malam hari sekitar pukul satu malam (Rabu, 11/03) saat itu bersamaan juga sudah ada beberapa warga yang mendatangi pihak pengelola dan perwakilan pihak pengembang terkait mobil besar yang terus dipaksakan masuk.

Foto : Rabu (11/03) tengah malam

Pihak pengelola dengan bendera CV. Murni Jaya yang dijalankan oleh Eko Hamdani (ketua BPD) dan Abdul Majid (anggota BPD) yang ditunjuk oleh Pengembang, malam itu Majid menyampaikan bahwa dirinya juga atas nama warga yang kebetulan dipercaya oleh pihak pengembang menjadi pengelola di Klaster ini akan mendukung keinginan dari warga. Bahkan jika seandainya pihak PT. Adinata Artha Kreasi tidak memenuhi tuntutan warga, maka dia sendiri juga turut bersana memportal jalan agar mobilnya tidak bisa masuk.

“ayo kita portal bareng-bareng kalau memang Pengembang tidak merespon, tapi, kasih mereka kesempatan untuk merundingkannya dulu,” terang Majid.

Hal selaras juga disampaikan oleh Busrizal yang dipercaya pihak pengembang dalam mengamankan dan mengawal tiap kendaraan mobil pengangkut barang masuk ke area lokasi. Terkait tetap masuknya mobil besar ini, Busrizal yang biasa dikenal dengan panggilan Bus, menyampaikan bahwa setau dia saat proses mediasi yang sudah dilakukan waktu itu, antara Forum Warga dengan pihak Pengembang dari PT Adinata tidak ada tuntutan kalau mobil tidak boleh masuk.

“forum warga baru menyampaikan tuntutannya satu hari yang lalu (Selasa, 10/03) melalui surat, sementara barang sudah siap antar, jadi tetap kami masukkan,” paparnya.

“Seandainya waktu mediasi saat itu ada tuntutan ini, maka saya tidak akan memasukkan mobil. Saya juga sama warga sini, bukan orang mana – mana. Tapi saya mohon, kasih kesempatan waktu dulu kepada pihak Pengembang untuk mereka berunding.” pungkasnya dihadapan beberapa warga yang mendatanginya.

Seorang warga mengatakan, keberadaan Klaster Industri Kecil dan Menengah dibawah Pengembang PT Adinata ini yang didalamnya dibangun puluhan gedung dengan perijinan untuk gudang penyimpanan barang, tapi kenyataannya juga ada beberapa PT yang berproduksi, hingga warga merasakan dampak berisik dan lain-lainnya sampai terkait saluran pembuangan air yang tidak jelas bahkan ada juga dugaan indikasi adanya limbah B3. *(TS)