TOPIKKITA.COM | KARAWANG – Dugaan limbah cair bahan berbahaya dan beracun (B3) yang bersumber dari perusahaan Sanggabuana Berjaya Indonesia (PT. SBI) di Tegalloa RT/RW. 09/07, Desa Cintaasih, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang mengakibatkan ribuan ikan milik para petani yang berada disekitar area belakang bangunan PT SBI mati mengambang sebagaimana telah diberitakan beberapa hari lalu, Selasa (15/12/2020) dengan judul : “Diduga Terkena Limbah B3 PT. SBI, Ikan Ternak Ludes Mati Mengambang. Warga Bakan Pojok Tuntut Keadilan” akhirnya pihak PT. SBI dengan para korban di mediasi oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Cintaasih di ruang desa. Rabu (16/12/2020).

Dari keterangan Kepala Desa Cintaasih, Dede Suryadi mengatakan bahwa hasil mediasi tersebut pihak PT. SBI bersedia mengganti rugi sesuai permintaan para korban yaitu mengganti modal  seharga ikan-ikan yang mati untuk pembenihan ulang kembali. Dalam pembayarannya, pihak PT. SBI meminta tempo satu minggu, akan tetapi Kepala Desa menyarankan agar dapat dibayarkan 4 hari kedepan.

Dede Suryadi (Kepala Desa Cintaasih)

Kades Dede mengaku selama ia menjabat kurang lebih dua tahun, baru kali ini bisa masuk bersama beberapa aparatur lainnya melihat kondisi didalam perusahaan tersebut guna melihat aktifitas warganya dalam bekerja disitu. Karena selama ini, akses untuk bisa masuk ke perusahaan tersebut sangat sulit.

“Inipun karena ada kejadian ramainya berita ikan-ikan warga yang mati,” terang Kades. Rabu (16/12/2020).

Kades mengaku, ia sangat kaget dengan adanya  aktifitas produksi yang ada didalam PT SBI tersebut. Sementara yang ia ketahui dalam profil perusahaan surat pengajuan perpanjangan domisili yang sudah ia terima namun belum ia tanda tangani,  bahwa bangunan PT SBI tersebut ijinnya adalah peruntukan “gudang”, namun faktanya nyata-nyata berproduksi pembuatan torn air, bukan penyimpanan barang atau gudang.

“Satu sisi memang warga kami butuh pekerjaan, namun warga kami yang bekerja disitu hak-haknya bagaimana,,? Dan bila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti kecelakaan kerja, jaminan-jaminan lainnya, bagaimana pertanggung jawaban perusahaan,,? Dan yang paling penting lagi, wilayah kami ini adalah zona hijau, untuk pemukiman dan pertanian, bukan untuk industri perusahaan,” tandas Dede.

  • Surat pernyataan warga di atas materai diketahui oleh pemerintah desa, meminta kepada “aparat/instansi terkait” untuk melakukan tindakan tegas kepada PT. SBI

Paska kejadian ini, yang mengakibatkan kerugian warga petani entah disengaja ataupun karena kelalaian, Kades Dede menginginkan agar PT SBI di tutup, karena di wilayah tersebut adalah zona hijau. Kedepan ia akan terus berkordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya baik Camat, TNI-Polri, Dinas Lingkungan Hidup maupun Dinas Tenaga Kerja.

Dari penuturan Kades selama ia menjabat, belum pernah pihak SBI turut peduli dalam sosial maupun pembangunan di wilayahnya.

Sementara itu, dari penjelasan petugas hubungan masyarakat (Humas) PT SBI sekaligus mantan kepala desa yang lalu, Ubuh Bukhori dalam keterangannya pada berita yang sudah terbit lalu, pihaknya mengakui bahwa kejadian ikan-ikan mati adalah kesalahan anak buahnya yang mencuci mesin menggunakan “solar”, namun dalam keterangan lain ia mengatakan “oli”, dan dibuang melalui pembuangan saluran air dari dalam PT sehingga keluar mengalir mengenai empang dan pesawahan warga.

Ubuh juga menyampaikan, bahwa memang PT ini berdiri pada saat ia menjabat menjadi Kepala Desa periode terdahulu, semata-mata untuk membantu membuka lapangan pekerjaan bagi warganya. (Red)