Ilistrasi pengantin wanita menunggu untuk di persunting calon suami

TOPIKKITA.COM | Pada zaman Rasul ada tiga orang pembesar berkunjung ke rumah istri – istri Nabi untuk bertanya perihal ibadah yang dilakukan oleh Nabi. Usai mendapat keterangan, mereka seakan – akan mengagungkannya dan berkata : “Bagaimana dengan ibadah kita bila dibandingkan dengan Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni segala dosanya, baik yang lalu maupun akan datang !”. Salah seorang diantara mereka akhirnya berkata : “Jika demikian, maka aku akan senantiasa mengerjakan shalat malam”. Yang lain juga berkata : “Aku akan berpuasa selama satu tahun berturut turut.” Dan satunya lagi juga berkata : Aku akan jauhi wanita dan selamanya tidak akan menikah.”

Ustad Taufik Suprapto, S.Sos.I, Pimpinan Majlis Darut Taufiq, Kp.Rukem, Ds.Jatireja, Kec.Cikarang Timur, Bekasi.

Mendengar kabar perihal tersebut, Rasulullah kemudian mendatangi mereka seraya bersabda : “Kaliankah yang mengatakan ini dan itu ?! Demi Allah, sungguh aku adalah hamba yang sangat takut dan sangat bertaqwa kepada Allah jika dibandingkan dengan kalian. Tapi ketika berpuasa, aku berbuka. Ketika selesai melaksanakan shalat, akupun pergi tidur. Selain itu, akupun mempunyai istri (menikah). Maka barangsiapa yang membenci (tidak mengikuti) sunnahku, sesungguhnya ia bukan termasuk golonganku.

Hadis ini adalah merupakan nasehat tentang himbauan untuk segera menikah, berumah tangga. Bahwa dahulu ada segolongan ahli sufi yang menyimpang tidak memperdulikan dan bahkan meninggalkan perkawinan. Pemuda – pemuda sufi tersebut terbagi menjadi tiga kelompok :

Pertama, menderita sakit akibat tertahannya sperma. Sebab, bila sperma seseorang terlalu banyak, maka akan mengalir ke otak. Dan bila tidak tersalurkan, maka akan mengalami penyakit yang dahsyat. Tentu menyalurkannya harus melalui pernikahan.

Kedua, mengerjakan hal – hal yang dilarang. Sebab disaat mereka bertahan untuk tidak melakukan hubungan intim, maka sel sperma akan terkumpul sehingga membuat suasana gelisah yang menyelimuti jiwanya, hingga melakukan hal – hal yang dilarang agama.

Ketiga, senang kepada anak dibawah umur dan melakukan praktek sex yang menyimpang.

Sahabat Ibnu Abbas berkata : “Menikahlah kalian ! Karena satu hari bersama istri, lebih baik daripada seperti ini (maksudnya adalah shalat) selama satu tahun.” Ibnu Mas’ud juga berkata ketika dalam keadaan tertusuk pedang saat perang berkecamuk : “Nikahkan aku !, sebab aku tidak senang bila berjumpa Allah dalam keadaan membujang !” Diriwayatkan juga bahwa, Imam Ahmad bin Hambal menikah pada hari kedua dari wafatnya (mantan) istri beliau. Imam Ahmad berkata : “Aku tidak senang membujang.”

Penulis : Ustad Taufik Suprapto, S.Sos.I
Penyuluh Agama Islam Non PNS, KUA Cikarang Timur, Kab.Bekasi.

Ust. Taufik Suprapto, S.Sos.I