Hamami (kiri), Hasan Basri (tengah), Eko Sinung (kanan)

TOPIKKITA.COM | BEKASI – Adanya peristiwa pencabutan plang logo Nahdlatul Ulama (NU) oleh beberapa oknum warga yang terpasang dipekarangan Masjid An-Nur Perumahan Mutiara Indah Bekasi Blok J-K, Desa Sindang Mulya, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada pagi hari usai melaksanakan ibadah shalat subuh banyak menuai kemarahan dan tanda tanya dari para kalangan warga nahdliyyin.

Dari keterangan ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Muhammad Afif, Logo plang NU tersebut baru dipasang pada malam hari (Minggu malam Senin, 06/06/2021) bersama – sama dengan jamaah ketika usai melaksanakan pengajian rutin di masjid yang dihadiri langsung oleh guru pembimbing pengajian yang turut serta dalam pemasangan plang. Akan tetapi karena saat itu cuaca hujan, maka malam itu baru sebatas dipendam yang esok hari baru akan dilakukan pemasangan secara permanen. Akan tetapi pada pagi hari usai shalat shubuh ada beberapa orang oknum yang memprofokasi warga untuk membongkar plang tersebut.

“tujuan pemasangan plang NU semata mata hanya untuk simbol saja, bahwa keseharian amaliyah ibadah mayoritas para jamaah adalah ahli sunnah wal jamaah (Aswaja) sebagaimana yang diajarkan oleh para guru – guru kita terdahulu melalui para ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama. Ini pun hanya sekedar simbol logo NU-nya saja, tidak ada tulisan kepengurusan atau apapun dan tidak ada maksud apa – apa, apalagi menyatakan bahwa masjid ini milik NU atau apapun lainnya,” terang M. Afif. Senin (07/06/2021).

Pagi hari mengetahui plang NU ada yang membongkar dan hilang, demi menjaga situasi kondisi agar tetap aman terkendali antar warga dan menghindari hal – hal yang tidak diinginkan, maka perbuatan yang dilakukan oleh beberapa oknum warga tersebut dibiarkan. Hingga akhirnya pada siang hari menyebarlah informasi tentang kejadian itu ke para warga nahdliyyin yang kemudian dengan sigap, sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi, Syarif Bunarif bersama wakil sekretaris, Ajuk Junaedi bertandang sowan ke salah satu tokoh agama KH. Jamaludin.

KH. Jamaludin yaitu salah satu putra pahlawan nasional dari kalangan santri asli asal Cibarusah, KH. R. Makmun Nawawi bin KH. Anwar, beliau menyarankan agar permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik – baik secara kekeluargaan, akan tetapi bila tidak menemukan mufakat, maka akan dilimpahkan ke pihak berwajib.

BACA JUGA :  Fatayat NU Lantik 'Forum Da’iyah Fatayat' Sekaligus Launcing Program ‘Nyantri Keren’

Akhirnya dengan sigap, pihak kepolisian yang diwakili oleh Kanit Intelkam, Ipda Avit Padilah, Babinkamtibmas Bripka Rudy dan dari unsur TNI Babinsa beserta kepala desa Rd. Selpia Indriyani yang diwakili oleh suaminya, Edy Sutarsan berikut aparaturnya melakukan mediasi untuk bermusyawarah di masjid tersebut.

Musyawarah pertama dilakukan pada sore hari usai waktu Asar dengan menghadirkan pihak ketua DKM bersama pihak yang melakukan pencabutan plang NU.

Dalam proses mediasi, perwakilan warga yang melakukan pembongkaran plang NU, Eko Sinung, Hamami, RT Ahmad dan Hasan Basri, melalui Eko, ia menyampaikan bahwa mereka bukan mengambil atau membongkar, tapi hanya mengamankan sementara.

“kami hanya mengamankan sementara plang tersebut, karena saat pemasangan plang sebelumnya belum ada musyawarah,” ujar Eko yang juga sebagai sekretaris DKM skaligus sekretaris RT. 04/08.

Sekretaris PCNU Kabupaten Bekasi, Kyai Syarif Bunarif menyampaikan saat proses musyawarah bahwa dirinya sangat miris, mendengarkan beberapa pengakuan orang – orang yang membongkar plang NU, bahwa mereka juga mengaku NU tapi dengan simbol logo NU, mereka seperti terlihat alergi malah membongkarya.

Kyai Syarif meyakinkan, bahwa keberadaan NU, khususnya di Kabupaten Bekasi bukan untuk membuat keributan apalagi memecah belah tali persaudaraan antara sesama warga.

“NU yang di prakarsai oleh para ulama hebat terdahulu yaitu KH. Hasyim Asy’ari telah membuktikan sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang bertujuan untuk selalu menggemakan kedamaian dalam hidup bersosial ataupun bernegara. Mari kita lakukan semua dengan santun, mengedepankan etika moral yang baik diantara sesama kita,” tutur Kyai Syarif.

“NU sangat mengedepankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniah dan ukhuwah basyariah,” imbuhnya.

Dari hasil mediasi, walaupun kedua pihak sudah saling bermaafan namun masih belum menemukan titik hasil kesepakatan terkait plang NU apakah akan dipasang kembali atau tidak, yang ternyata plang tersebut disimpan dikediaman RT Ahmad.

Kemudian atas inisiasi Kanit Intelkam, mediasi dilanjutkan pada malam hari usai waktu Isya pukul 20.00 WIB yang harus dihadiri oleh semua pengurus masjid. Hingga kurang lebih pukul 22.00 WIB akhirnya mendapatkan keputusan mufakat.

BACA JUGA :  Terkait Asset dan Arsip Desa Cikarang Kota, Boksu : "Pemdes Cikarang Kota Sebelumnya Tidak Transparant, BPD Harus Bertanggung Jawab."

Dalam proses mediasi walaupun situasinya sempat memanas terjadi ketegangan saling berdebat antar kedua belah pihak, namun akhirnya terjadi kesepakatan setelah ada usulan dari seorang jamaah untuk meminta pendapat para penasehat DKM agar memberikan saran pendapatnya yang kemudian para jamaah semuanya harus menyepakati.

Akhirnya perwakilan penasehat DKM, H. Bahrudin memberikan wejangan dan saran agar plang tersebut tetap dipasang kembali dengan harapan agar situasi kedepannya bisa lebih baik.

“plang tersebut karena sudah ada, ibarat nasi sudah menjadi bubur, saran saya lebih baik dipasang kembali. Semoga kedepannya tidak ada lagi konflik dan kita perbaiki komunikasi yang baik antar pengurus masjid agar kedepannya bisa saling menguatkan kembali tali persaudaraan ukhuwah Islamiyah diantara warga,” papar H. Bahrudin yang sekaligus tokoh biasa menjadi imam shalat berjamaah.

Setelah penasehat DKM memberikan saran masukan, sebagaimana usulan jamaah yang nantinya harus disepakati bersama, namun masih saja ada salah satu jamaah yang intrupsi menolak keputusan tersebut. Hingga akhirnya pihak kepala desa turut memberikan saran agar saran dari penasehat DKM diikuti bersama sebagaimana sudah disepakati bersama demi kebaikan bersama untuk menjaga situasi kondisi yang kondusif agar wilayah di desanya tetap aman.

Edy Sutarsan (kiri), AKP. Josman Harianja (tengah), H. Bahrudin (kanan)

“Amini saja apa yang sudah disampaikan penasehat DKM tadi, tidak usah kita perdebatkan lagi. Karena tadi sudah disepakati, bahwa apapun hasil saran masukan dari penasehat DKM akan kita sepakati bersama. Kita hormati beliau, tokoh kita, orang tua kita. Kalau terus berdebat saling mencari pembenaran ataupun menyalahkan, ini tidak aka selesai – selesai,” tegas Edy Sutarsan, suami kepala desa Sindang Mulya.

Hingga akhirnya disepakati plang logo NU tetap dipasang kembali ditempatnya semula.

Kapolsek Cibarusah, AKP. Josman Harianja, SH yang sempat turut hadir ia menyampaikan, “warga sudah menyepakati menempuh jalan musyawarah terbaik diantara adanya perbedaan pendapat maupun pemikiran, syukur alhamdulillah telah disepakati pemasangan kembali plang NU yang dicabut oleh oknum dan sudah disepakati oleh para alim ulama, tokoh masyarakat dan sesepuh di Sindang Mulya ini,” ujarnya. (Red)

BACA JUGA :  PerguNU Pertanyakan Visi Nadiem Sebagai Leader Pendidikan