Presiden Jokowi beserta istri sambil memakan bakso, didampingi Nyumarno (anggota DPRD) saat berkunjung ke Kabupaten Bekasi terdahulu.

TOPIKKITA | BEKASI – Menyikapi kondisi perekonomian Indonesia saat ini, dampak dari mogok jualan para pedagang daging sapi se-Jabodetabek kini harga daging sapi terus semakin naik, akibat rendahnya supplai ke pasaran.

Bahkan dipasaran terjadi kelangkaan bahan pangan seperti; tempe, tahu, toge, serta melambungnya harga cabe rawit yang mencapai harga 90.000/kg, harga ayam Rp 28.000/kg, daging sapi segar Rp 125.000/kg dan daging sapi import Rp 80.000/kg.

Imbas kenaikan tersebut banyak pelaku UMKM di sektor kuliner yang berbahan baku daging sapi mengeluh, salah satunya ribuan penjual bakso. Ini terjadi akibat mahalnya bahan baku.

Sementara itu, ribuan pedagang bakso dan pelaku usaha UMKM lainnya tidak bisa menaikkan harga jual, karena daya beli masyarakat yang rendah akibat pandemi covid 19. Selama PSBB dan PPKM omzet mereka juga turun drastis hingga 50% dari omzet biasanya.

Selain Menurunnya omzet penjualan, juga karena jam operasional jualan para pelaku usaha UMKM yang dibatasi pengunjung makan ditempat (Dine-in) dan waktunya, sehingga secara otomatis pendapatan/omzet dan rejeki mereka berkurang.

Sedangkan carut marut tata kelola niaga daging sapi di Indonesia terjadi sejak tahun 2004. Karena banyak dikuasai oleh mafia/kartel daging sapi, baik sapi hidup ataupun daging sapi beku import. Padahal pada masa pemerintahan SBY mencanangkan pada tahun 2024 swasembada daging sapi.

“buruknya tata kelola niaga daging sapi ini menyebabkan masyarakat kecil yang seharusnya bisa membeli daging sapi dangan harga yang murah, tetapi faktanya harga daging sapi semakin mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Hanya di Era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Ahok, rakyat kecil mendapatkan subdisi untuk membeli daging sapi dengan harga yang murah,” urai Sekjen Pengusaha Mie dan Bakso Indonesia (Papmiso), Bambang Hariyanto. Sabtu (23/01/2021).

Lanjut Bambang, “Begitu juga dengan regulasi dan pejabat pelaksana yang lebih condong mempermudah proses import dari pada pemberdayaan dan perlindungan terhadap para peternak sapi lokal yang sebenarnya sumber daya alam (SDA) dan Sumber daya manusianya (SDM) sangat kaya dan mumpuni. Serta hasil daging sapinya lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah,” terangnya.

BACA JUGA :  DPRD Desak Pihak Ejip dan Dinas Terkait Untuk Segera Tangani Longsor Sukaresmi

“Kami selaku perwakilan Asosiasi Pedagang Bakso Indonesia memohon kepada yang terhormat Bapak Presiden Jokowi agar segera membuat Regulasi dan Membenahi Tata kelola Niaga daging sapi di Indonesia ini dengan harapan agar rakyat kecil, pedagang jecil dan peternak sapi lokal bisa mendapatkan harga daging sapi yang lebih murah dan berkualitas super, sehingga akhirnya Indonesia bisa Swasembada Daging Sapi pada Tahun 2030,” pungkas Bambang. (Red/TB)