Helmi, anggota DPRD Komisi III Kabupaten Bekasi

TOPIKKITA.COM | BEKASI – Menindaklanjuti hasil sidak yang dilakukan Bagian Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi kepada Pabrik Batako yang berlokasi di Kampung Kempes, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (26/06/2020) lalu yang sampai berita ini tayang kembali, masih juga belum ada tindakan apapun dari Dinas Lingkungan Hidup.

Ketika dikonfirmasi via whatsApp (WA) , Arnoko, Kabid Gakkumdu Dinas Lingkungan Hidup tidak merespon sama sekali. Bahkan Kasie Gakkumdu dari Dinas Lingkungan Hidup, Tedy Rostiadi yang melakukan Sidak dan telah membawa sample Material B3 yang diambil dari lokasi Pabrik Batako yang memanfaatkan Limbah B3 tersebut juga hanya menjawab, “Minggu ini dibahas dipanggil (pemiliknya – Red)” jawabnya melalui WA.

Helmi, anggota DPRD Komisi III angkat bicara terkait masalah ini, ia mengatakan, “Nanti kita akan panggil Pemilik Pabriknya beserta Orang Dinas Lingkungan Hidup, dan akan kita cek izin pemanfaatannya, jenis limbahnya, dampak terhadap lingkungannya apa. kalaupun Dinas Lingkungan Hidup yang sudah melakukan sidak juga akan kita minta pertanggungjawaban, inputnya sudah ada, tinggal outputnya apa yang sudah dilakukan. Nanti akan kita pertanyakan. Baru kalau memang tidak ada tindakan, akan kita sidak kembali, bahkan akan dilakukan penyegelan jika hal tersebut melanggar aturan. Senin (06/07/2020).

Politisi dari Partai Gerindra ini juga menambahkan, dirinya akan segera melaporkan kepada Ketua Komisi III untuk menindaklanjuti permasalahan ini, karena memang dinas lingkungan hidup adalah mitra kerjanya, dan memanfaatkan Limbah B3 tanpa izin adalah kejahatan lingkungan.

Material bahan pembuatan batako di lokasi

Sesuai pantauan dari wartawan topikkita.com, Pabrik Batako yang diketahui adalah milik Bilioner Silaban pengusaha yang bertempat tinggal di Jakarta, telah membuka usaha Pabrik Batako tersebut selama kurang lebih 3 tahun dimana sebagian material bahan bakunya memakai material yang diduga Limbah B3 antara lain Pasir Foundry, Bottom Ash, dan Fly Ash yang dihampar di atas tanah pekarangan pabrik yang ditenggarai masih milik tanah negara milik pengairan ini masih ada aktifitas paska disidak oleh Dinas Lingkungan Hidup. Bahkan lokasi pabriknya saat ini sedang dibangun pagar permanen agar tidak dapat dipantau dari luar. (Sant/sar)