TOPIKKITA.COM | BEKASI – Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Jaya Suti Abadi yang ada di Kampung Rukem, Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, diduga bersengketa keluarga terhadap hak waris. Senin (12/10/2020).

Dengan dasar hak waris atas nama Cita Suherman anak kandung dari Almarhum Djembar Bin Jaya Mulya yang rupanya sekaligus sebagai pemilik lahan tanah di sekolah Jaya Suti Abadi sedang memperjuangkan hak warisnya yang selama ini telah dikuasai oleh pihak yang masih bersangkutan keluarganya.

Cita Suherman mengatakan, “perjuangan itu bukan hanya baru kali ini dilakukan, 3 (Tiga) tahun kurang lebih dilakukan bersama keluarga untuk mendapatkan hak warisnya, namun sampai saat ini dari pihak yang menguasai lahan tidak kunjung ada itikad baik terhadap dirinya selaku hak waris,”  Ujarnya.

Masih kata dia, hari ini dia memasang baner di sekolah, karena menurutnya sudah kesekian kali dengan jalan musyawarah secara kekeluargaan namun dirinya kecewa terhadap pihak yang menguasai lahan, karena belum juga memberikan titik terang.”

“Jika memang musyawarah secara kekeluargaan ini tidak diketemukan jalur mufakat, maka jalur hukumlah yang harus ditempuh untuk menentukan hak milik lahan Sekolah Jaya Suti Abadi tersebut. Saya sudah lelah melakukan perjuangan ini,” ungkap Cita.

Lanjut Cita, “Bila terus seperti ini, maka tidak menutup kemungkinan berdampak kepada sekolah, yang mau tidak mau sekolah harus di tutup sementara dan saya akan membuka semua perjalanan yang selama ini sudah saya tempuh,” jelasnya.

Budi, selaku paman dari Cita mengatakan, “hari ini Senin, 12 Oktober 2020 saya datang ke sekolah mendampingi keluarga (Cita Suherman) untuk menanyakan hak warisnya, namun pihak dari tergugat sebagai keluarga sendiri masih belum ada itikad baik juga,” singngkatnya.

Di tempat yang sama ketika beberapa awak media mencoba untuk mengkonfirmasi pihak pemilik sekolah (tergugat), pihaknya mengarahkan agar berbicara langsung kepada pengacaranya.

Namun setelah terjadinya pertemuan antara kedua belah pihak tergugat dan penggugat untuk mediasi secara kekeluargaan yang disaksikan pihak kepolisian dan para awak media hendak mencoba konfirmasi, namun di usir oleh oknum pengacara dari pihak tergugat.

“Kalau sudah tidak ada kepentingan, keluar pak..! kamu semua, keluar sekarang..!, atau saya laporkan polisi..! Ucap wanita yang diketahui sebagai pengacara pihak tergugat dengan nada emosi kepada para wartawan.

Menyaksikan hal tersebut, para awak media sontak sangat kaget dan kecewa terhadap prilaku pengacara yang seharusnya mengerti tentang undang – undang. Secara jati diri, wartawan dalam menjalankan  tugasnya  dilindungi undang – undang Pers nomor 40 tahun 1999, bahkan ketika ada yang menghalang – halangi dalam peliputan kegiatan jurnalistik, secara jelas terang benderang diatur didalam Pasal 18 Ayat (1) yang menyebutkan, “bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

Apakah tindakan yang dilakukan oleh seorang pengacara tersebut dapat dibenarkan?

Sampai berita ini diterbitkan, sehingga belum ada kejelasan dari pihak sekolah terkait dugaan sengketa lahan Sekolah Jaya Suti Abadi tersebut. (AM)