TOPIKKITA.COM | KARAWANG – Beberapa warga Kampung Bakan Pojok RT.04/02 Desa Cintaasih, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani dan ternak ikan mengungkapkan keluhannya didepan awak media yang ditujukan kepada pihak perusahaan Sanggabuana Berjaya Indonesia (PT. SBI) yang berlokasi di Jalan Pangkalan, Kampung Tegalloa RT. 009/007 Desa Cintaasih, Kabupaten Karawang, salah satu perusahaan produksi alat penampungan air (torn) yang diduga telah membuang limbah cair B3 (bahan berbahaya dan beracun) melalui pembuangan air dari dalam perusahaan sehingga mengaliri cier-cier mengenai pesawahan dan kolam empang/balong ternak ikan milik mereka. Akibatnya hampir seluruh empang ikan yang terkena endapan cairan B3 tersebut semuanya kandas mati terapung, juga tanaman-tanaman padi mereka belum jelas apakah akan terkena dampak akibat dari airnya yang terkena aliran cairan limbah tersebut.

Dari keterangan salah satu warga yang terdampak, peristiwa ini terjadi pada tanggal 29 November 2020, saat hujan lebat pihak perusahaan mengakui bahwa mereka mencuci mesin dengan cairan dan membuangnya ke saluran air dari dalam pabrik yang terbuang ke luar ke saluran cier-cier pesawahan warga. Namun hingga saat ini belum juga ada bentuk keadilan dari pihak perusahaan maupun pemerintahan terhadap warga yang terdampak.

Seorang warga, bapak Acep yang terdampak ikannya mati yang kolam ikannya berdekatan tepat dibelakang pabrik, ia mengatakan dengan bahasa daerahnya (Sunda) diterjemahkan oleh radaksi, bahwa sampai saat ini belum juga ada keadilan dari pihak perusahaan.

Acep, tidak mau terima ganti rugi hanya 500 rb untuk dua orang. Ancam akan tutup saluran PT SBI bila keluarkan limbah lagi

“Memang sempat, waktu awal-awal kejadian pihak perusahaan datang ke lokasi dan mengambil gambar genangan air kolam yang permukaan airnya seperti banyak gumpalan minyak agak kebiru-biruan (Sunda: hinyai),” kata Pak Acep. Minggu (13/12/2020).

Masih keterangan Acep, “pihak perusahaan waktu datang ke lokasi empang, ia mengatakan katanya nanti ada itungannya. Namun sampai saat ini belum juga ada kejelasan,” terangnya dengan nada emosi dihadapan awak media.

Dari pemaparan Acep, dengan luas empangnya 2.300 meter ia biasa panen ikan selama 50 hari dengan keuntungan sekitar 4 juta lebih, belum lagi biaya pelet ikan dan tenaganya.

Dilokasi berbeda, awak media mendatangi terdampak lainnya, Ki Karju (70 tahun) dilokasi empangnya ia juga membenarkan seperti apa yang disampaikan Acep. Sambil menunjukkan ikan-ikan patin miliknya yang mati terapung dipinggiran area empang dan pesawahan, Karju berharap agar ada kebijakan dari pihak perusahaan. Ia menyadari ini semua musibah, tapi minimal ada kebijakan.

BACA JUGA :  Jembatan Penghubung Karawang-Bekasi Diresmikan Dua Bupati

“Modal timbul modal atuuh…, karena ini musibah, saya beli bibit ikannya saja sekitar 700.000 lebih, belum pakan peletnya,” ungkap kakek yang bertahun-tahun mata pencahariannya ternak ikan dan tani dengan nada lirih penuh harap.

Ki Karju (70), tidak direspon laporan ikannya mati oleh pihak PT SBI, hanya pasrah menerima nasib yang dianggapnya musibah

Dari keterangan Ki Karju, memang ikannya ketahuan mati terapung agak belakangan setelah beberapa hari dari milik Acep dan Asep. Karena letak empangnya berada dilereng agak bawah, sementara milik Asep dan Acep berada diatas sangat dekat langsung dengan saluran air pembuangan dari pabrik. Ia juga mengaku, seharusnya seandainya sampai panen, ia biasa meraup keuntungan sekitar 7 juta lebih, namun kali ini ia hanya bisa pasrah dan menelan kekecewaan karena tidak bisa berbuat apa-apa dan ketika ia mencoba menyampaikan keluhannya kepada seseorang yang terkait dengan perusahaan, namun tidak mendapatkan respon yang memuaskan.

Secara kebetulan awak medi juga bertemu dengan Asep, ketika berada dilokasi Ki Karju. Asep adalah pemilik empang ikan mas dan mujaer yang empangnya berdampingan dengan empang Acep. Saat ini empangnya sudah dikeringkan, guna memulai baru lagi untuk ditanami ikan mulai dari nol.

Asep mengatakan, bahwa beberapa hari lalu namun ia lupa tepatnya kapan, memang pihak perusahaan sempat mendatanginya ketika di lokasi empang dan memberikan sebuah amplop sebagai ganti rugi dan ia disuruh menandatangani sebuah kertas. Amplop tersebut hanya berisi 500 ribu untuk dua orang, Asep dan Acep. Akan tetapi setelah dirundingkan dengan Acep, dan ternyata isinya hanya 500 ribu, maka amplop tersebut dikembalikan kepihak perusahaan namun tidak diterima.

“Sampai saat ini masih belum ada tanggapan apa-apa lagi dari perusahaan,” terangnya.

Ikan-ikan mati yang di ambil oleh beberapa pemiliknya dan gelisah soal nasib tanaman padinya kedepan. Ribuan ikan-ikan lainnya mati terbuang sia-sia.

Sementara, aparat desa RW. 04/02 Dusun 1, Hasan berharap kepada pihak perusahaan agar bisa secepatnya menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh warganya.

“jangan sampai masalah ini melebar kemana-mana, hawatir masyarakat saya marah sehingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” pinta Hasan.

“Total warga yang terdampak yang saya ketahui sampai saat ini berjumlah 6 orang: Acep, Asep, Ki Karju, Rosyad, Japar dan Ikin, tidak tau kalau nanti ada lagi yang mengadu,” ujarnya.

BACA JUGA :  Polres Metro Bekasi Bekuk Residivis Pencurian di Mesin ATM
Empang milik Asep yang dikeringkan guna memulai lagi dari nol menebar benih ikan, namun masih nampak endapan sisa-sisa limbah cair yang diduga B3

Menyikapi permasalahan beberapa warga tersebut, Kepala Desa Cintaasih, Dede Suryadi ketika dihubungi oleh awak media melalui pesan singkat WhatsApp, ia mengaku sama sekali belum tau tentang hal ini, karena memang belum ada pengaduan dari warga.

“Kalau memang benar dan ada pengaduan dari warga, mungkin saya yang ada di garda paling depan untuk meminta pertanggungjawaban ke PT SBI,” jawab Kades. Senin (14/12/2020).

Terhadap PT. SBI yang diduga melakukan pembuangan limbah tersebut, Kades mengaku belum pernah sama sekali masuk ke dalamnya.

“Saya sendiri sebagai Kades, sama sekali belum pernah masuk kedalam PT tersebut. Desa periode yang saya pimpin, sama sekali belum memberikan ijin. Jangankan ijin, mereka meminta untuk memperpanjang domisili pun, saya belum memberi tanggapan apapun. Karena saya sendiri menunggu pengaduan-pengaduan dari warga.” Terangnya.

Sejalan dengan itu, Sekretaris Desa, Wacep Hidayat juga menyampaikan bahwa selama pemerintahannya ini belum pernah sekalipun perusahaan tersebut memberikan bantuan pada setiap kegiatan-kegiatan masyarakat.

“Bahkan Bimaspol dan Babinsa saja, ketika mau masuk untuk memantau situasi Kamtibmas, sama sekali tidak di ijinkan masuk. Dan sekedar mengambil gambar untuk pelaporan saja, tidak dibolehkan. Mereka hanya bisa sampai di depan PT saja,” ujar Sekdes di ruangannya. Selasa (15/12/2020).

Saluran pembuangan air dari PT. SBI nampak dari belakang yang diduga sumber keluarnya limbah B3 yang mengenai empang dan pesawahan warga

Ketika beberapa awak media mencoba mengkonfirmasi pihak PT. SBI, scurity mengarahkan agar bertemu langsung kepada H.Ubuh Bukhori selaku Humas.

Tanpa dipersilahkan masuk kedalam area perusahaan, di kedai warung tepat pinggir jalan berdampingan dengan bangunan pabrik, Ubuh yang mengaku mewakili pihak perusahaan membenarkan kejadian yang dialami oleh para peternak ikan dan petani tersebut. Akan tetapi menurutnya hal itu dianggap sudah selesai dan tidak ada masalah lagi.

“Memang betul ada ikan-ikan yang mati di empang warga sekitar perusahaan, saya sudah melaporkanya kepada pimpinan dan sudah ada uang kebijakan. Saya katakan sama mereka mau minta ganti rugi berapa, nanti biar saya sampaikan, ini ada kebijakan dari perusahaan, tapi mereka tidak mau mengucap. Lalu mereka saya kasih 500 ribu untuk dua orang. Namanya juga kebijakan,” terang Ubuh, mantan Kepala Desa yang saat ini diangkat menjadi Humas di PT. SBI. Selasa (15/12/2020).

BACA JUGA :  Usai Mediasi Akibat Dugaan Limbah B3, Kades Cintaasih Berharap PT. SBI di Tutup
Ubuh Bukhori, mantan Kades yang mengaku dijadikan Humas oleh PT. SBI

Masih kata Ubuh, “setelah beberapa hari berlalu, udah seminggu kemudian adalagi yang datang katanya ikannya pada mati. Loh, ko’ kenapa, udah seminggu ini. Masa’ iya udah seminggu ikan masih pada mati,” jelasnya.

Ubuh menambahkan, “terkait ikan yang mati tersebut menurutnya ini baru kali pertama, itu akibat anak buahnya mencuci mesin dan cairannya mengalir kesaluran sehingga masuk ke lahan peternakan ikan dan sawah warga,”

Menurut Ubuh saat ia turun ke lokasi, ia juga sangat menyayangkan kejadian hal ini bahkan menyalahkan pihak pemilik empang.

“Mungkin kelalaian anak buah saya, kelalaian bapak juga, gitu kan…,” cetusnya.

Bahkan menurut Ubuh, sesuai yang dia lihat dilokasi, ikan-ikan yang mati diperkirakan hanya sekitar satu kilo dan harganya paling seberapa.

Di lain tempat, seorang tokoh agama terkemuka di wilayah itu yang namanya tidak mau disebut ia juga sangat menyayangkan dengan kejadian ini. Bahkan dianggapnya percuma ada PT pembuat Torn Air di wilayahnya, namun suatu ketika dimusim kemarau, tidak pernah PT itu memberikan bantuan sekedar Torn untuk menampung air bersih.

Perlu diketahui, jika perusahaan tersebut sengaja membuang limbahnya, berdasarkan Pasal 60 jo. Pasal 104 Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Nomor 32 Tahun 2009.

Pasal 60 UU PPLH:
Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin.

Pasal 104 UU PPLH:
Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (Red)