TOPIKKITA.COM | BEKASI – Sebuah Pabrik Pembuatan Batako di sidak mendadak oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi. Pasalnya pabrik tersebut diduga menggunakan bahan dari limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk produksinya. Kamis (25/06/2020).

Pabrik yang terletak di kampung Kempes, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, masih berstatus tanah milik negara (Pengairan-red) berada di tengah-tengah pemukiman warga. Bahkan dibelakang pabrik tersebut terdapat perumahan warga yang hanya dibatasi oleh sungai kecil antara lokasi pabrik dengan perumahan tersebut.

H. Tedi Rostiady selaku Kepala Seksi Penegakan Hukum (Kasie Gakkum) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi tampak sedang mengambil beberapa sampel tanah yang diduga sebagai Limbah B3 ia mengatakan “ini limbah sangat berbahaya, yang coklat itu Pasir Foundry bekas peleburan. Kalau yang hitam ini Bottom Ash dari Batubara, dan ada lagi fly ash untuk lebih tepatnya ini akan dicek dulu di laboratorium,” ujarnya kepada awak media.

H. Tedi Rostiady menambahkan, “Kami telah membuat berita acara pemeriksaan dan segera akan memanggil pemilik pabrik secepatnya. Namun untuk sementara, kita akan tutup pabrik ini jangan sampai produksi. Ini sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar. Dari jangka waktu 5 sampai 10 tahun, air dalam tanah akan tercemar walaupun tidak instan air dalam tanah akan beracun. Sehingga melanggar PP 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” pungkasnya.

Ditempat yang sama hadir juga pihak pelapor, Madrawi, “saya selaku salah satu anggota Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) dan BPD membuat laporan ke dinas lingkungan hidup seperti yang kita lihat disini ada Fly Ash dan Bottom Ash. Kita khawatir dengan adanya bahan tersebut akan berdampak kepada masyarakat sekitar. Saya yang sedikit ada pengetahuan tentang limbah B3 ini bersurat dengan Dinas LH Kabupaten Bekasi. Kalau pun masyarakat tahu jika pabrik ini ada limbah B3 pasti tidak boleh. Dan saya melaporkan ini karena saya lihat produksinya yang semakin banyak dan lahan ini juga berada lahan PJT dan berada di zona kuning,” ucap Madrawi.

Saat ditanya oleh awak media, Madrawi mengaku bahwa dirinya mendapati limbah B3 yang berupa Fly Ash dan Bottom Ash ini di antar oleh dua unit mobil, dan saat di tanyakan dokumennya, supir tidak dapat menunjukkan dokumen apapun hingga ditanya asal barang tersebut, supir mengaku dari PT. Tenang Jaya Karawang.

Hal senada juga di sampaikan Ican Silaban, yang mengatakan, “ saya sudah di buat BAP oleh orang dinas, pabrik ini milik orang Jakarta bernama Bilioner, pabrik sudah berjalan selama 2 tahun, barang dibeli dari supir PT. Tenang Jaya dengan cara menelpon, jadi gak resmi,” tandasnya kepada awak media. (Sant)