Penulis: Raden Juli A. HambaliDosen pada Fak. Ushuluddin UIN SGD Bandung.

TOPIKKITA.COM | BANDUNG, JAWA BARAT – Mari belajar dari sejarah, mari mematuhi apa yang dituturkan para Guru terdahulu. Kita sedang menghadapi bencana. Kita sedang bermuka-muka dengan nestapa yang pelan tapi pasti menggerogoti usia dan kemudian menghilangkan nyawa. Dalam situasi genting seperti sekarang kita dituntut untuk membuktikan sikap dan keberagamaan yang seharusnya. Sikap keberagamaan yang tidak sekadar mengagungkan dan menyebut Tuhan dengan segala keagungan dan kuasa-Nya.

Dalam situasi genting seperti sekarang ketika wabah mengepung dari berbagai penjuru sikap keberagamaan yang benar adalah juga merentangkan tangan dan berkhidmat kepada sesama manusia. Ini barangkali yang disebut dengan “social faith” (Bassam Tibi). Beriman kepada “fakta sosial”. Percaya bahwa kita sedang berhadapan dengan kenyataan yang menuntut kita untuk berbuat. Mari bersama menumbuhkan solidaritas dan khidmat untuk menjaga dan memelihara kehidupan sebagai anugrah terbesar yang dipersembahkan Tuhan untuk sekalian umat manusia. Bela rasa terhadap sesama. Menunjukkan cinta terhadap manusia lainnya dengan berbagai cara. Dalam kondisi sekarang, social distancing mungkin adalah salah satunya. Bertauhid adalah meyakini bahwa Dia Satu-satunya. Dia Maha Mutlak, dan Dia Mencipta. Bertauhid dalam gerak adalah kemestian memanjatkan doa sambil tetap mematuhi nalar dan logika dengan senantiasa berupaya.

Sungguh. Bela rasa terhadap sesama adalah hakikat manusia sebenarnya. Jika dalam proses penciptaan, manusia bersedia bersaksi terhadap Tuhan maka sebenarnya dia juga sedang bersaksi terhadap seluruh potensi kebaikan (fitrah) yang ada pada dirinya. Persaksian yang benar adalah persaksian yang menuntun siapapun untuk tidak sekadar ihsan tapi juga memiliki sifat dan sikap tawadhu.

Kata Imam Abu Hasan Asy-Syazali dalam bahasa Arab yang artinya : “Dengan ihsan manusia menjadi terlihat istimewa. Dan dengan sifat tawadhu, kemuliaan terlihat nyata.”

Khawatir juga takut, wajar saja menghampiri kita hari ini. Tapi itu tidak lantas menumpulkan rasa kesetiakawanan kita. Menggembosi sikap untuk tidak perduli terhadap sesama. Mempreteli kemampuan kita untuk membantu mereka yang membutuhkan. Mungkin juga kita panik dengan berita-berita yang bersliweran yang belum teruji kebenarannya. Tapi kepanikan sebagaimana disebut Ibnu Sina adalah “separuh dari penyakit”. Sebaliknya, “ketenangan adalah separuh obat”, dan “kesabaran adalah permulaan dari kesembuhan”.

Ya. Bahkan dalam situasi kalut dan rumitpun, agama juga pitutur para solihin menasihati kita untuk sabar. Sabar yang otentik bukanlah sikap pasif yang hanya diam menunggu keajaiban dan tidak melakukan apapun, tapi berusaha dan memaksimalkan seluruh potensi dan kemampuan yang kita punya. Maka bersabarlah, sebab sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali dalam Ihya-Nya yang artinya, bahwa : “Sabar menunggu jalan keluar adalah ibadah, karena musibah itu tidak akan selamanya”

*(red)