TOPIKKITA.COM | BEKASI – Sejumlah mahasiswa, pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Muda Mudi Bersama Odha (Ammuba) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Pemkot Bekasi. Unjuk rasa tersebut dimulai dari pukul 13.00 WIB.

Terlihat, mahasiswa membawa sejumlah poster dan spanduk berisi berbagai protes. Sesampainya di depan pagar Pemkot Bekasi, mereka langsung menyuarakan dinas kesehatan tidak peduli akan kesehatan dan pengadaan obat khususnya bagi para penyandang penyakit HIV/AIDS yang dimarjinalkan Pemkot Bekasi.

ARV menjadi urgen dalam program Pemerintah Kota Bekasi khususnya bagi Dinas Kesehatan.

“Ada beberapa kesalahan yang hari ini kita coba carikan solusinya dengan duduk bersama dinas terkait. Dan ahamdulillah, hasilnya sudah di ACC ama Pak Walkil Walikota.” kata Richie kepada wartawan usai keluar dari ruang rapat Wakil Walikota Bekasi. Kamis (12/03/2020).

Dia menyebut dalam aksi tersebut, ada empat tuntutan yang disampaikan. Diantaranya, copot Kadinkes Kota Bekasi karena dianggap telah gagal melaksanakan tanggung jawab memprioritaskan obat ARV untuk kebutuhan Kawan2 Odha, mendesak Pemkot Bekasi memperioritaskan kebutuhan obat ARV odha, mendesak Pemkot Bekasi agar menjalankam prosedural pelayanan penyediaan obat untuk odha sebaik-baiknya – sebaiknya.

Selain itu, juga mendesak Kadinkes transparan mengenai stock out ARV Di Kota Bekasi karena Kota Bekasi dalam krisis obat ARV.

“Kelangkaan ini terjadi sejak tahun ini. Dan di 2019 akhir, belum ada gerak langkah, baru pelaporan saja.”ucapnya.

Richie menjelaskan lebih jauh, dari 4500 penderita HIV di Kota Bekasi, ada sekitar 1400 orang penderita yang baru mengkomsumsi obat odha tersebut.

“Dan dari hasil pertemuan tadi, mereka akan sediakan dan siapkan obat tersebut dan akan diperioritaskan dengan jemput bola langsung ke Provinsi.” ujarnya.

“Bila ini tidak direalisasikan, maka kami akan terus akan lakukan aksi sampai masalah ini jadi penting di Kota Bekasi. Targetnya sampai 26 Maret ini sudah terealisasi.” tegas Richie. (red)